Apa jadinya? Anak-anak kita semakin mengenal dan akrab dengan kisah-kisah manca Negara (dan tokoh-tokoh ceritanya tentu)ketimbang cerita dengan”jagoan” dan latar situasi nusantara yang begitu luas dan beragam. Memang, sulit dihindari, komik pun sebagai bagian dari industri pembukuan ikut dalam arus bebas globalisasi. Semua itu pun mustahil tanpa kemajuan teknologi percetakan yang kian canggih! Namu disayangkan, kenapa tidak muncul komikus-komikus Indonesia untuk menyambut segala kemudahan itu? Kita menjadi gemar mengkonsumsi produk orang luar dari pada mencipta dan mengembangkan karya sendiri.
Komik Indonesia memeng mengalami krisis. Ia tertidur……. nyaris koma! Semantara itu generasi anak-anak yang mulai gemar membaca dan menikmati cerita terus tumbuh, dan mereka melahap apa saja yang tersaji di toko-toko buku swalayan. Sebagai catatan tambahan: bacaan fiksi anak-anak dan remaja non-komik dari luar negeri porsinya juga sudah jauh mengatasi produksi karya dalam negeri. Ini menambah keprihatinan.
Kebangkitan kembali komik Indonesia dalam situasi penuh persaingan yang tak seimbang kelihatannya seperti impian. Tapi kreativitas terkadang bukan tidak mungkin mendobrak segala kekhawatiran itu. Komikus kreatif pasti lahir! Dari mana? Ya. dari bakat-bakat yang bertebaran diantara 200 juta orang Indonesia , yang sementara ini belum diasah, belum cukup latihan, belum banyak mengamati karya-karya orang.[12-11-2009 ]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar